Surga itu


Surga itu ndak jauh, ndak ada kuotanya, dan ndak mahal

Surga itu hanya butuh ketulusan, kesungguhan, dan keluarbiasaan

Semangat berjuang!

Iklan

Life


People who can find humor in their huge problem, they win.  And my father is the biggest winner i have ever known. Nope, he is a warrior.

Resolusi Bulanan


Tahun ini adalah akumulasi kemungkinan dari ketidakmungkinan – ketidakmungkinan yang terlampau banyak. Antusias, iya. Semangat, iya. Optimis, iya. Tahun ini juga akumulasi realitas dari mimpi yang dibangun empat hingga sepuluh tahun yang lalu. Antusias, iya. Semangat, iya. Optimis, mmm, baiklah, iya. Tahun ini adalah penentu dari puluhan tahun ke depan ataupun  nol tahun ke depan (tidak tahu pasti) dari duapuluhtiga tahun sebelumnya. Antusias, mmm, mungkin. Semangat, tidak juga. Optimis, tidak yakin.

Sebuah kalimat sederhana, singkat, dan membuatku sadar dan tertampar. Sebuah kalimat yang terlontar dari dia yang lebih muda, lebih kecil, lebih imut, tetapi mungkin lebih kompleks hidupnya? Entahlah.

 Sebuah kalimat yang selalu terngiang di acapkali ingin menyerah, ya kalimat itu, “Ammah, biarlah lelah jika lillah.” Ucapnya sambil senyum polos dengan tatapan yang penuh makna.

Aku paham maksudnya, dia juga paham maksudnya mengucapkan kalimat itu. Bukan asal ucap, tetapi ia paham apa yang kurasakan. Dan ia tidak sedang berupaya ingin merasakan apa yang kurasakan. Hanya saja ia ingin megingatkan apa yang HARUS aku rasakan dan lakukan. Sejenak saja ingin rehat atau mungkin ingin bersandar. Tetapi apakah cukup yakin, bahwa yang dilakukan selama ini cukup melelahkan dan menyusahkan? Yakin pantas untuk rehat atau bersandar atas upaya yang BARU dilakukan selama ini? Batinku dalam hati. Terimakasih sayang untuk ucapannya 🙂

 Menjadi muslim begitu melelahkan, begitu menantang, begitu menggoyahkan. Hanya saja tak pernah terbersit untuk rehat dalam beragama, ataupun abstain untuk beragama.

 Meski pernah dulu mencoba untuk semalam mencoba suasana ibadah agama lain. Namun tetap saja, hati telah terpaut pada sebuah rasa percaya. Tidak sedang cinta buta hanya saja setiap kali ingin mangkir, selalu saja ada kebetulan-kebetulan yang menyadarkan dan mengembalikan. Mungkin agar tidak terlampau jauh, nampaknya Ia sedang mengajakku berjalan-jalan. Mungkin agar tidak bosan.

Ya Allah, benar kataMu bahwa sebaik-baik yang disembah hanyalah Engkau. Entahlah, tetapi memang sesuatu yang tidak kekal itu membuatku tidak yakin untuk dipercayakan. Rasa-rasanya apa yang Kau ajarkan memang sesuai dengan yang seharusnya kulakukan. PerintahMu begitu susah, laranganMu begitu menggoda. Tetapi ganjaranMu sungguh setimpal. KeadilanMu begitu proporsional.

Baiklah, bulan ini akan mengambil sikap. Sikap yang akan menentukan mau jadi apa kau kedepan. Serta mau dengan jawaban apa kau ditanya saat di akhirat.

Seperti bulan-bulan sebelumnya, seolah akan memberikan perubahan yang berarti. Meyakinkan bahwa perubahan itu pasti, namun sikap yang kau ambil itu pilihan. Jangan salahkan kegagalan atas upayamu yang begitu yakin sudah maksimal. Jangan salahkan syaitan atas imanmu yang begitu yakin begitu kuat. Jangankan salahkan keluhanmu atas jerihpayahmu yang diumbar.

Selamat beresolusi untuk bulan-bulan berikutnya!

Sengkaling, malam hari jam sebelas seperempat

Perjalanan Pulang


Lima belas kilometer. Merupakan jarak yang harus kutempuh untuk pergi ke tempat les. Relatif dekat karena ditempuh dengan motor. Tetapi terasa begitu jauh, karena jalan antar rumahku dan tempat les harus melewati pertokoan ramai dan berbagai instansi yang selalu memadati jalan. Praktis, setiap perjalananku ke tempat les da pulang les terasa cukup jauh. Hujan deras pun tetap kuterjang, tidak banyak yang tahu kalau hujan itu berkah. Apalagi yang menerjangnya, mungkin akan banyak mendapat berkah, siapa yang tahu. Selama perjalanan pulang dan pergi itu pula aku banyak merenung. Berpikir. Menerawang. Apa saja yang sudah kulakukan selama ini? Apa saja yang sedang kulakukan selama ini? Apa saja yang akan kulakukan esok hari? Kukendarai motor seperti kondisi auto drive, kalau di film-film James Bond biasanya mengunakan mobil mewah dan saat Bond sedang seru berkelahi sang mobil dapat berkendara sendiri dengan gagahnya. Tidak cepat namun juga tidak lambat, motor berjalan seolah ia turut mendengarkan apa yang kubincangkan dengan diriku sendiri.

Hujan deras pun tetap kuterjang, tidak banyak yang tahu kalau hujan itu berkah.Apalagi yang menerjangnya, mungkin akan banyak mendapat berkah, siapa yang tahu.

Ciiitt..! motorku berhenti mendadak. Terlihat kucing pasar yang lemas sekali di tengah jalan, persis di marka jalan. Untung jalanan sedang sepi, kupinggirkan kucing itu di depan rumah. Berharap ada yang mengasihaninya. Tanpa pikir panjang, kucing itu kutinggalkan begitu saja dan aku melanjutkan perjalanan kembali. Setiap peristiwa yang terjadi di jalan tidak ada yang benar-benar kuingat, karena otak dan hatiku sedang tidak berada di jalan. Badanku sudah penuh dengan awang dan bahan untuk siang kupikirkan saat di jalan.

Begitulah, les selama satu bulan akan usai perjalanan pergi dan pulang pun akan usai. Hingga dalam perjalanan pulang terakhirku, aku mulai merutuki diriku sendiri. Kalau sudah tidak ada perjalanan ini, hari-hariku mau diisi apa? Apa lagi yang mau kulakukan? Hal-hal bosan seperti sebelumnya? Ah…

Masih terus berpikir. Tapi aku tidak mau melakukan hal yang tidak aku senangi. Apalagi jika harus berhari-hari, berbulan-bulan, ah sial, aku tidak mau itu!. Aku punya mimpi, aku punya semangat. Tetapi mengapa aku merasa hambar saat ini? jaman kuliah dulu, kegiatanku begitu menyenangkan. Sangat menyenangkan malah. Berpetualang dan berpetualang. Teman baru, pengalaman baru, hal baru. Semuanya terasa menyenangkan. Dan aku yakin dimanapun aku berada selama aku bisa, aku akan senang. Tetapi mengapa sekarang begitu bosan?

Aku punya mimpi, aku punya semangat. Tetapi mengapa aku merasa hambar saat ini?

Kamu punya mimpi? Punya. Kamu ada target yang harus dicapai? ada. Kamu ada semangat untuk mengejarnya? Ada. Tapi mengapa kamu merasa tak semangat? Nah itu. Aku sendiri juga tidak paham. Seolah aku menerka ujian lisan dari Tuhan, ketika dulu saat penyesuaian pada jaman kuliah di jogja aku begitu takut karena harus berjuang sendiri. Seolah Tuhan sedang menantangku, apakah aku sanggup menjalani ini dengan mandiri? Dan hasilnya memuaskan, aku begitu nyata dan saat itu aku sangat siap dengan tantangan-tantangan baru jika harus kulalui saat itu juga. Bukan karena pasti akan berhasil, jangan dikira, saat kuliah banyak kegagalan yang harus aku hadapi. Tapi rasa untuk menghadapi kegagalan demi kegagalan itulah yang selalu membuatku kuat dan percaya diri untuk mencoba lagi. Tapi kini? Rasa-rasanya Tuhan sedang menantangku kembali. Bukan dengan hal-hal yang baru seperti itu. Entah apa. Aku masih saja meraba.

Tanpa terasa telah sampai di rumah. Kubuka pintu pagar dengan perlahan agar tidak mengganggu tetangga. Kuparkirkan motor di garasi rumah. Dan seperti biasa, tanpa ketuk pintu aku langsung masuk ke kamar bapak ibu. Kudapati bapak sedang membuka laptop dan ibu sedang asyik membuka ponsel, aku langsung loncat ke kasur menghampiri ibu dan memeluknya. Entah gemas atau karena sayang. Tetapi memang selalu seperti itu, setiap kali pulang les aku akan bertemu mereka dan membicarakan apapun yang ada di pikiran. Kalaupun tidak ada yang perlu dibicarakan, cukup aku tiduran disitu, tanpa rasa bersalah mengotori seprei dengan rokku yang masih berlumpur dan basah karena hujan. Hanya senyum-senyum sendiri mendengar celotehan ibu yang sengaja tak kubalas, dan bapak yang njawil-njawil aku karena ditegur ibu malah senyum-senyum.

Lantas aku terdiam. Untuk beberapa waktu, aku mulai berpikir serius. Seolah ada solusi dan sepertinya aku sudah paham sekarang. Masih dengan celotehan ibuku dan jawilan bapakku, aku kembali tersenyum sendiri. Tetapi dengan makna senyum yang berbeda. Senyuman yang puas dan bahagia, karena paham mengapa aku disini dan mengapa aku kembali bersemangat.

Sengkaling, jam sembilan pagi di kamar

Sebuah catatan akhir Januari


Hai. Akhirnya jari ini mau kembali jelalatan setelah sekian lama tak menulis.

Kali ini tentang kunjungan ke tempat magang sebagai bagian dari program P2M3 (Panti Pesantren Mahasiswa Muhammadiyah) Malang. Awal niatan sih mau ke saudara di Tulungagung. Seperti biasa, dalam setiap perjalanan haram hukumnya hanya “menggok” satu tempat sebelum sampai di tujun akhir yang bakal dikunjungi bapak. Beliau paling anti menerapkan one time one job. Yep, setiap kita melakukan perjalanan bisa tiga, empat hal sekaligus jadi tempat yang bakal didatengin. Apapun medannya, apapun cuacanya. Mau jalan naik turun, terjal, berkubang, nyebrangin selat, tancap daah.  Selama hidup 22 tahun, banyak hal baru yang selalu kudapat dari sosok bapak. Tidak pernah bosan dengan wejangan yang diberi, pengalaman-pengalaman di lapangan yang selalu seru, dan lagi semangatnya yang tak pernah redup. Meski tahun demi tahun berlalu, keriput dan menua menjadi takdir, namun sorot mata bapak mampu menyiratkan bahwa perjuangan belum selesai, masih banyak hal yang harus dilakukan dan semuanya menyenangkan. 😀

P2M3, sebuah panti pesantren mahasiswa yang sudah sejak lama bapak impikan. Memiliki salah satu program unggulan, yakni magang. Waktu liburan mahasiswa umumnya digunakan untuk pulang ke kampung halaman dan bersantai ria. Tetapi tidak dengan awak P2M3 ini. Ya, ke tiga puluh anak P2M3 ini mengemban amanah untuk menghabiskan waktu liburannya ke dalam tiga kloter. Kloter pertama, magang. Selanjutnya sosialisasi dan terakhir baru pulang ke kampong halaman.

Sebelum menceritakan tentang proses magang, kujelaskan konsep sosialisasi ala P2M3 ya :3. Sosialisasi ini dilakukan setahun sekali, sebelum pendaftaran SNMPTN. Apa yang mereka lakukan cukup kompleks dan menantang. Pertama, memberikan informasi Beasiswa bidikmisi dan snmptn ke panti asal masing-masing. Kemudian melakukan pendampingan cara pendaftaran perguruan tinggi secara personal. Bak layanan profesional, para awak P2M3 siap membantu adik-adik asuh nya yang kesulitan dalam mendaftar ataupun meminta rekomendasi dari SMA nya (Jangan salah, ada pengalaman justru Kepala Sekolah sendiri mempersulit dalam rekomendasi sekolah kepada muridnya, dengan alasan yang tidak jelas). Serta yang paling penting dari proses sosialisasi itu para awak P2M3 akan memotivasi adik-adik panti agar berani mendaftar kuliah. Selain karena factor biaya dan peluang masuk, adik-adik panti ini justru sudah mengalami down atau ketidak percayaan diri yang berlebih sebelum maju ke medan perang. Ada banyak alasan yang membuat mereka takut untuk (minimal) mencoba mendaftar perguruan tinggi, mungkin nanti bisa kubuat dalam tulisan di lain waktu. 😀

Nah, kemudian Magang! Dalam perjalanan ke perjalanan ke Tulungagung, kami (Bapak, Ibu, dua awak P2M3, dan aku) berhenti di Talun, Blitar. Mengunjungi lima awak P2M3 magang ditempatkan di rumah seorang kenalan bapak yang sukses dalam melakukan ternak bebek. Sesampainya disana tampak ribuan bebek ber “kwek kwek” ria di kandang, belakang rumahnya. Setelah dipersilahkan, kami pun masuk ke dalam dan disuguhkan teh panas, sebagai pelengkap hujan sore saat itu. Lama mendengarkan, bapak itu bercerita bahwa usaha bebek ini sudah dimulai dari ayahnya. Ia, dan ke enam saudara sejak kecil sudah turut terlibat dalam setiap proses ternak bebek. Tak heran, baik bebek pedaging maupun petelurpun sudah menjadi komoditas utama dalam proses produksi yang berlokasi di belakang rumahnya sendiri. Blitar merupakan salah satu pemasok terbesar Bebek se Indonesia, baik luar Jawa maupun Jakarta akan dikumpulkan dan didistribusikan kembali di sejumlah pasar di Blitar. Para penduduk Blitar sendiri juga banyak yang bermatapencaharian ternak bebek. Maka, baginya ini sebuah kebanggaan sekaligus peluang usaha yang menggiurkan, mengingat harga telur bebek cukup mahal. “Melalui usaha ini, ketiga anak saya sudah menempuh studi pendidikan dan Alhamdulillah sukses semua. Waktu masih menabung untuk biaya sekolah anak, saya terus bekerjakeras mengejar omset dengan mengirim telur-telur bebek dalam kuota ribuan setiap minggu nya baik di Jawa maupun Luar Jawa. Tetapi sekarang saya sudah bisa lebih rileks dan santai, karena semua sudah hampir mentas pendidikan. Tinggal mengembangkan usaha yang sudah ada kini,” paparnya, ketika ditanya tentang perkembangan usahanya kini.

Kemudian perjalanan berlanjut ke Pak Pujiono, tidak jauh dari rumah Pak Mulyono, ia juga ternak bebek dan melakukan penetasan telur bebek dan ayam. Sayang, saat itu telur masih belum ada. Tetapi sempat mengobrol sebentar, Bapak menjelaskan alasan berkunjung yakni program magang P2M3. Bapak menjelaskan bahwa meski perkuliahan itu penting, tetapi justru ada banyak hal yang tidak dipelajari di kampus. Ya seperti magang ini. Misal, jurusan peternakan akan mempelajari proses bebek petelur dari awal hingga akhir. Teori A dan B akan dipelajari, dan dipraktekkan. Tetapi tidak penuh. Nah, melalui magang ini kita akan belajar di lapangan tentang ternak bebek yang sebenarnya. Hambatan apa saja yang harus dihadapi, serta dengan berkenalan langsung ke peternak bebek yang sukses, tentu kita akan melihat kiat-kiat apa yang dilakukan untuk dapat sukses dalam usaha ternak bebek ini.

Waktupun tak terasa cepat berlalu, masih ada tempat yang harus disambangi. Akhirnya kami pamit dan meluncur ke sudut Blitar lainnya. Sebuah lokasi panti Muhammadiyah yang baru dirintis oleh seorang teman, tetangga Bapak sewaktu di Tulungagung dulu. Selama tiga jam bakda Isya’ ada sepuluh pengurus panti hadir disitu, saling berdiskusi tentang pengalaman serta permasalahan yang hadir dalam dinamika mengurus anak asuh panti. Jujur, sedikit banyak aku cukup terkejut mendengar permasalahan yang harus dihadapi para pengasuh panti. Bagaimana tidak? Anak asuh yang belum tentu kita kenal luar dalam sejak lahir, tetapi harus bertanggung jawab secara lahir batin. Jangan bicara soal penghasilan sebagai pengurus. Tentu jauh dari kaya, tetapi Insya Allah cukup dan barokah asal Ikhlas, begitu kata seorang pengurus panti. Meski kini ada beberapa pengurus yang sukses mengelola panti dan dapat memakmurkan anak-anak asuhnya. 😀

Kupikir senasib dengan guru, pengurus panti itu juga pahlawan tanpa tanda jasa. Seminggu 7 hari, sehari 24 jam, pengurus panti sudah menjadi orangtua sendiri bagi anak asuhnya. Anak-anak asuh dari berbagai latar belakang, meski terkadang sering membuat pengurusnya “cukup berkeringat” menghadapinya. Tetapi dengan semangat lillah, semua karena Allah SWT, terus mengasuh dan mendidik anak asuhnya. Hingga akhirnya, akan lahir generasi-generasi cendekiawan yang tidak hanya hadir dari kalangan mapan saja. Tidak sedikit orang-orang sukses yang besar dari Panti Asuhan. Jika berada di panti menjadi hal yang memalukan untuk diakui di tempat umum, maka itu hanya akan menghambat perkembangan sosial mereka.

Justru disinilah awak P2M3 dididik dan dilatih untuk mematahkan predikat panti sebagai “tangan dibawah” dab bahkan bisa menjadi “tangan di atas” . Berbekal pengalaman dan pembelajaran baik di panti maupun di perkuliahan, martabat setiap anak di angkat dan disadarkan betapa berharganya mereka. Tak henti motivasi demi motivasi dari pengurus untuk meyakinkan satu hal penting, bahwa kekayaan harta itu tidak penting karena itu bisa dikejar, yang paling penting itu kaya hati. Kalau kita kaya hati maka tidak hanya harta yang bisa dikejar, namun juga kebahagiaan dunia akhirat bisa kita raih. Dan jaminannya surga. Amin.

Oleh karena itu, hei kamu awak P2M3 banggalah menjadi bagian dari “keluarga dadakan” ini. Terus bekerja keras dan maksimal dalam menjalankan tugas. Bahu membahu untuk mengejar mimpi. Dan terus melakukan yang terbaik. Tunjukkan pada sekitar, bahwa kita juga bisa dan mampu untuk menjadi yang terbaik!

Salam

                                                                                                                                                Sleman, 2.45 AM 03022015

Menginklusifkan Mimpi untuk Perubahan Lebih Baik


Kalau kata mbak Ipung, pegiat Sigab (Sasana Advokasi & Integrasi Difabel), sekarang itu masih berpegang pada asaz kenormalan. Dimana manusia dengan tubuh yang lengkap itulah yang normal. Padahal, mereka yang tidak memiliki tubuh lengkap pun sebenarnya juga manusia normal. Hanya saja konstruksi “normal” dengan bagian tubuh lengkap yang melekat pada tubuh manusia lah yang selama ini masih menjadi stigma di lingkungan sosial kita.

Buku Acara Temu Inklusi 2014. Bagaimana berkomunikasi dan memahami difabel.

Buku Acara Temu Inklusi 2014. Bagaimana berkomunikasi dan memahami difabel.

Stan-stan yang turut meramaikan Temu Inklusi 2014. Terdiri dari berbagai komunitas pejuag difabel.

Stan-stan yang turut meramaikan Temu Inklusi 2014. Terdiri dari berbagai komunitas pejuag difabel.

Seorang peserta difabel netra dari Kalimantan Selatan sedang bertanya saat seminar Desa Inklusi. Disampingnya, nampak relawan sedang menjadi interpreter untuk para peserta ruwi

Seorang peserta difabel netra dari Kalimantan Selatan sedang bertanya saat seminar Desa Inklusi. Disampingnya, nampak relawan sedang menjadi interpreter untuk para peserta ruwi

Seminar Desa Inklusi yang dihelat di Balai Desa Sendangtirto dengan menampung seluruh aspirasi peserta.

Seminar Desa Inklusi yang dihelat di Balai Desa Sendangtirto dengan menampung seluruh aspirasi peserta.

Yap, itulah perkataan mbak Ipung yang selalu terngiang di telingaku. Persis saat melakukan training untuk mempersiapkan para relawan dalam menghadapi peserta difabel dari berbagai penjuru wilayah Indonesia. Bukan apa-apa, relawan seperti kami (sebut saja aku, dan beberapa kawan lainnya) masih awam dalam berteman dengan para difabel. Kami pun diberi pelatihan langsung, bagaimana cara menggandeng difabel netra, mengangkat kursi roda yang baik, belajar bahasa isyarat paling standar yakni huruf abjad dengan satu tangan, serta pemahaman-pemahaman inklusif lainnya. Awalnya jelas grogi dan dan tidak percaya diri, apakah bisa nanti turut aktif membantu kegiatan ini untuk membantu peserta difabel?

Hingga akhirnya, acara Temu Inklusi 2014 pun berlangsung. Tepatnya di Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman Yogyakarta. Berbagai rangkaian acara pun berlangsung secara hikmat. Dengan garis bawah besar, maraton dan terengah-engah, saya yang masih relawan masih terbata dalam mengikuti acara ini. Hehe…

Panas lapangan pada siang hari dan nihilnya kemampuan membaca lapangan, sukses membuat saya lari kesana kemari untuk memastikan jobdesc (job description) yang saya pegang berjalan dengan baik. Jauh dari sempurna memang, tetapi bersama dengan teman-teman relawan yang lain dan tentunya bersama dengan orang-orang Sigab yang luar biasa, acara ini berlangsung dengan lancar.

Bukan hal besar memang, tetapi pengalaman berkenalan dengan para peserta yang luar biasa seperti Pak Bambang dengan sepeda motor roda tiganya, Bu Laili dengan kursi roda lincahnya, Bu Rubiyati dengan kruk yang tetap lancar dengan motor roda dua, Mbak Rini dengan Cerebral Palsynya, Pak Aden dengan kursi roda dan akses sundanya, Mas-mas dan Bapak-bapak Not Biru dengan Jimbe, gitar dua, bass, dkk nya, Pak Broto dengan Deaf Art Community nya (bertemu jauh sebelum acara Temu Inklusi), Mas Anto, Mas Boim, Mbak Elzha, Mbak Emma, Mbak Ipung, Pak Rohmanu, Pak Syafii, Pak Syamsuddin, Pak Joni, dan orang-orang Sigab lainnya yang luarbiasa, serta teman-teman relawan dengan latar belakang yang berbeda, seperti Aziz dan Janatul UNY, Mbak Choir, Andi, Mbak Uwiik, dan Mas Hendro dari UIN, Mbak Deni, teman-teman dari Magelang Deaf Community, serta relawan lainnya lah, yang membuat saya sangat terkesan dengan acara ini.

Well, bukan bermaksud berlebihan. Tetapi pengalaman adalah guru yang paling luar biasa bukan?

Bahwa sebuah keterbatasan itu hanya persoal sudut pandang. Apakah itu membatasi atau tidak, ya tergantung bagaimana kita memandangnya. Njuk kalau kamu tidak bisa, kamu tidak sukses? Jangan-jangan bukan karena tidak bisa, tapi tidak mau. Walah, lha kok menyindir diri sendiri ya. Haha…

Baiklah, ini masih tulisan perdana saya tentang difabilitas.

Oke, disambung pada tulisan selanjutnya yaa…. 🙂

Senyum Simpul


Hal yang paling membingungkan adalah di saat kamu tidak sedang ingin menjadi dirimu sendiri. Tetapi sekitarmu juga mendukungmu.
Menjadi bebas adalah ketika kamu bisa memperkenalkan dirimu pada dunia dan berhasil. Berhasil menyampaikan pada dunia, bahwa kamu adalah kamu. Kamu yang menyenangkan adalah menjadi kamu. Bukan orang lain.
Orang bilang bodoh, akupun juga berpikir seperti itu. Menyukai seseorang tapi tak pernah sedikitpun berharap memiliki. Mengapa? Karena orang yang disukai sekaligus orang yang dibenci. Bingung. Tak perlu definisi.
Sahabat adalah hal paling indah yang pernah dimiliki selama hidup. Berbagi suka duka. Menghabiskan waktu berjam-jam tanpa harus direncanakan. Memarahi dan merangkul dengan tulus. Bukan karena suka, tapi karena perlu. Mengingatkan dan saling menyayangi. Tak perlu susah payah berucap, sahabat mampu membaca apa yang kau inginkan. Mereka siap membantu dan selalu disamping. Aku pun tak pernah paham, seberapa pantas untuk memperoleh sahabat yang luar biasa seperti mereka. Berulang kali dikecewakan, hasilnya? Mereka tersenyum walau diselingi kekecewaan. Tetapi kesempatan selalu diberi tanpa pamrih. Bingung. Tak perlu definisi.
Menjadi terlalu bahagia atau berlimpah kesempatan nampaknya tidak terlalu baik untuk kesehatan. Dampaknya bisa membuat lupa diri dan mengecewakan banyak orang, tidak luput diri sendiri.

Maka menjadi penyelesaian paling bijak adalah diam.

Menikmati semua proses dengan diam.

Sekuat tenaga menghemat sikap yang dulu terlalu berlebih.

Tak kuat menghemat, diganti dengan senyum simpul.

Bulaksumur, 10062014